'www.unbara.ac.id'

Fakultas Pertanian

'www.unbara.ac.id'

Fakultas Pertanian

'www.unbara.ac.id'

Fakultas Pertanian

'www.unbara.ac.id'

Fakultas Pertanian

'www.unbara.ac.id'

Fakultas Pertanian

Tampilkan postingan dengan label mar 2010. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mar 2010. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 November 2012

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani Karet Rakyat untuk Mengikuti Program Revitalisasi Perkebunan di Kec. Lubuk Batang Kab. OKU

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Petani Karet Rakyat untuk Mengikuti Program Revitalisasi Perkebunan di Kec. Lubuk Batang Kab. OKU
Oleh: Rosnaliza Testiana  

Abstract 
This Research aim to (1) Identifying factors influencing farmer of rubber follow Program of Revitalization in Subdistrict of Lubuk Batang Ogan Komering Ulu, (2) Identifying factors influencing production of rubber before following Program of Revitalization in Subdistrict of Lubuk Batang Ogan Komering Ulu, (3) Counting the level of operating income of farmer of rubber accepted by farmer before following Program of Revitalization in Subdisdtrict of Lubuk Batang Ogan Komering Ulu. Result of research indicate that from factors entered into function model binary logit obtained that mount education, and the earnings, having an effect on positive to rubber farmer decision in following Program Revitalization. While experience have an effect on negative to rubber farmer decision in following program revitalization. Produce people rubber in Subdistrict of Lubuk Batang of Regency of Ogan Komering Ulu is manifestly influenced by farm, labor, urea, TSP herbicide And. While and KCl capital do not have an effect on to people rubber production. While earnings mean obtained by a people rubber farmer in Subdistrict of Lubuk Batang of Regency of Ogan Komering Ulu during year 2008 is equal to 19.424.685,56 with value R/C equal to 5,02. Key words: Rubber farmer, revitalization,farmer income

PENDAHULUAN
Tanaman Karet di Propinsi Sumatera Selatan merupakan komoditas strategis untuk dikembangkan dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakatnya. Kontribusi penyerapan tenaga kerjanya cukup signifikan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah penduduk Sumatera Selatan yaitu 432 ribu orang atau 25 persen yang menggantungkan hidupnya pada komoditas ini (Forum Bersama Pembangunan Perkebunan Sumsel, 2006). Program Revitalisasi Perkebunan adalah salah satu upaya pemerintah dalam percepatan dan pengembangan perkebunan rakyat melalui perluasan, peremajaan dan rehabilitasi tanaman perkebunan yang didukung kredit investasi perbankan dan subsidi bunga oleh pemerintah dengan melibatkan perusahaan di bidang usaha perkebunan sebagai mitra pengembangan dalam pembangunan kebun, pengolahan dan pemasaran hasil (Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ogan Komering Ulu, 2008).

Upaya Peningkatan Produktivitas Tanah Pada Lahan Kering Di Kabupaten Ogan Komering Ulu

Upaya Peningkatan Produktivitas Tanah Pada Lahan Kering Di Kabupaten Ogan Komering Ulu
Oleh: Nurlaili

Abstract OKU Regency has Tofografi and altitude ranges from 100 to 1000 meters above sea level. OKU Regency form varies from flat to hilly or from 0-2% to above 40%. Dry area that has a slope of less than 15% can be developed for crop year, while the land has slope 15 to 40% annual crops can be developed, while the land that has a greater slope 40% should be left as a forest that serves as a regional water absorption. Type of soil in areas dominated by OKU Regency Podsolik good soil Podsolik Red Yellow, Red yellow and Brown. While climate has a wet tropical climate and the temperature varies between 22 to 31 oC. The development of dryland agriculture often face many obstacles, including land biophysical constraints that are usually closely related to soil conditions are less favorable for plant growth and is an indicator of the low productivity of land. Obstacles include sensitive land erosion and poor sifik properties, chemical and biological soil. Efforts that can be done to improve the productivity of land include: (1) erosion control, (2) improvement of soil physical properties, (3) improvement of soil chemical properties, and (4) improvement of soil biological properties. These efforts need to be comprehensive by taking into account the priority scale, efficiency, and effectiveness of a technology that will be applied. Key words: Productivity of land, dry land 

PENDAHULUAN 
Indonesia pernah mencapai swasembada beras pada tahun 1984 berkat pelaksanaan program intensifikasi melalui kegiatan peningkatan ketersediaan air irigasi dan penerapan teknologi maju, seperti: pengelolaan tanah yang tepat (penerapan teknik konservasi, pengelolaan bahan organik, pengapuran, pemupukan), penggunaan varietas unggul, pengendalian hama penyakit, penanganan pascapanen, penggunaan alsintan, rekayasa sosial, dan lain-lain.

Alternatif Pengelolaan Unsur Hara P (Fosfor) Pada Budidaya Jagung

Alternatif Pengelolaan Unsur Hara P (Fosfor) Pada Budidaya Jagung
Oleh: Novriani

Abstract 
Maize is the main basic food materials in Indonesia, which has a very important position after rice. Maize production in Indonesia has yet to achieve food self-sufficiency. To achieve that required the proper cultivation techniques and to provide sufficient nutrients for growth of maize. One of the most necessary nutrient availability, especially in acid soils is a soil-nutrient phosphorus. Phosphorus plays an important role in increasing the growth of corn from the vegetative phase until the generative phase. There are many ways that can be done to meet the nutrient needs of phosphorus in the soil among the addition of organic fertilizer, inorganic fertilizer, biological fertilizer and soil conditions in order to maintain stable soil pH remained neutral for example, soil erosion can be addressed with conservation techniques and to maintain soil moisture. Key words: Maize, phosphorus, fertilizer 

PENDAHULUAN 
Jagung (Zea mays) merupakan tanaman serelia yang tumbuh hampir diseluruh dunia dan tergolong spesies dan veriabilitas genetik yang besar. Tanaman jagung berasal dari Amerika dan berkembang ke Spanyol, Portugis, Italia dan bagian timur Afrika. Pertama kali tanaman jagung dikenal di Indoensia empat ratus tahun yang lalu dibawa oleh orang Portugis dan Spanyol (Surapto HS dan Marzuki RHA, 2002). Peranan jagung di Indonesia cukup penting sebagai tanaman pangan yang menempati urutan kedua setelah padi. Hasil biji jagung digunakan sebagai makanan pangan juga digunakan sebagai makanan ternak dan bahan baku industri. Tanaman jagung di samping sebagai penghasil biji, juga dibudidayakan sebagai penghasil hijauan pakan ternak dan bisa juga sebagai pupuk organik (Mattobi, 2004). Produksi jagung tahun 2009 diperkirakan 18,12 juta ton pipilan kering. Dibandingkan produksi tahun 2008, terjadi kenaikan 522,86 ribu ton atau 2,97 persen. Kenaikan produksi pada 2010 diperkirakan terjadi karena naiknya luas panen seluas 67,83 ribu hektare atau 1,63 persen, dan produktivitas sebesar 0,56 kuintal per hektare atau 1,32 persen. Tetapi ini belum mencapai swasembada pangan karena kebutuhan jagung di Indonesia cukup tinggi (BPPS, 2009).

Respon Petani Kopi Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Terhadap Fluktuasi Harga dan Iklim Suatu Pendekatan Model

Respon Petani Kopi Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan Terhadap Fluktuasi Harga dan Iklim Suatu Pendekatan Model
Oleh: Munajat 

Abstract This research is to find out coffee farmers response (reflected from the farm area) with the fluctuation of coffee price and the rival plant (pepper and cacao) and the rain fluctuation as the climate of proxy. South Ogan Komering Ulu has been taken as the object because of its famous as coffee area in South Sumatera. The data use time series (1995-2008) with descriptive method and explanatory research. This study use supply response which change the plant area into the field area as distributed lag with nerlove study. The result shows that the coffee farmer in South OKU really responsed with the price fluctuation and climate. The change of coffee price and pepper as the rival commodity will influence the coffee plant area. Its happened also with the climate as the proxy, its also influenced the response of the farmer to add the coffee plant area. Its not same with the cacao because its not influenced the farmers decision to add the plant area. Key words: Coffee farmers response, price fluctuation, nerlove models 

PENDAHULUAN 
Perkebunan kopi menjadi salah satu andalan utama komoditi ekspor dari sektor perkebunan dan memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan asli daerah Sumatera Selatan. Selain itu perkebunan kopi telah menjadi salah satu sumber penghidupan bagi petani kopi, pedagang kopi, industri pengolahan kopi dan eksportir kopi di Propinsi Sumatera Selatan. Beberapa tahun terakhir ini komoditi kopi menjadi bahan pembicaraan di tingkat nasional akibat fluktuasi harga yang cukup tajam, ketidak pastian produksi, mutu produksi dan kurang baiknya pengelolaan paska panen, disamping itu terjadi pergeseran lahan dari komoditi usahatani kopi ke usahatani perkebunan lainya seperti lada, kakau, cengkeh, panili dan lain sebagainya yang dilihat dari sisi harga komoditi tersebut cukup stabil sepanjang tahun bahkan terjadi kenaikan.

Pengaruh Pemupukan Terhadap Genotipe Hasil Seleksi Galur Jagung (Zea Mays L) Terhadap Penyakit Bulay (Pheronascelesphora maydis) di Lahan Marjinal

Pengaruh Pemupukan Terhadap Genotipe Hasil Seleksi Galur Jagung (Zea Mays L) Terhadap Penyakit Bulay (Pheronascelesphora maydis) di Lahan Marjinal
Oleh: Firnawati Sakalena 

Abstract This research was conducted to obtain an efficient lines of maize selection of nutrients, and high yielding, against diseases bulay on marginal land. This research was conducted from December 2008 until March 2009 in Hall of Integrated Agro Technology (ATP), Bakung Village, North Inderalaya District, Ogan Ilir regency, South Sumatra. This research method using Randomized Block Design (RBD). With four replications and the treatment of Recurrent Selection selection of 107 strains, derived from four parental varieties (Sukmaraga, Lamuru, Bhishma, Heroine White), and six entries of complex corn base population. The results of this study showed that genotype had a high yield disease resistant to as many as 16 strains bulay compared with four varieties of elders is a variety Bhishma (B) with a conversion yield per hectare of 6.61 tons and there are 46 lines / genotypes that have a high yield and tolerance in conditions of the Sub-Optimum fertilization but not resistant to disease than the parental varieties are Bulay Yellow Heroine (K) with a conversion yield per hectare of 5.90 tons. There is a relationship between downy mildew with the result that if a large percentage of mildew attack then the result will be low and vice versa a small percentage of downy mildew attacks the hasinya will be high. Downy mildew is the outcome of the selection lines grown both in conditions of sub-optimal fertilization and optimal fertilization conditions. Key words: Disease bulay, fertilizing, efien nutrients, resistant, genotypes, strains

PENDAHULUAN
Perbaikan varietas jagung sampai saat ini lebih banyak ditekankan pada peningkatan potensi hasil. Dengan beragamnya agroekologi target pengembangan jagung, maka perbaikan genetik juga dilakukan untuk mengatasi cekaman lingkungan. Sehingga untuk lahan kering marjinal pengembangan varietas unggul diarahkan pada varietas unggul jagung yang berdaya hasil tinggi, toleran atau tahan cekaman biotis dan abiotis.(Kasim, 2002).

pdf file

Analisis Peran Ibu Rumah Tangga dalam Mewujudkan Diversifikasi Pangan Pada Tingkat Rumah Tangga di Desa Kotabaru Kecamatan Martapura OKU Timur

Analisis Peran Ibu Rumah Tangga dalam Mewujudkan Diversifikasi Pangan Pada Tingkat Rumah Tangga di Desa Kotabaru Kecamatan Martapura OKU Timur
Oleh: Fifian Permata Sari 

Abstract The purposed of this research is to find out family food diversification in Kota Baru, West OKU, and to analyse the factors that influenced women contribution to diversificated the family food. This research done in Kota Baru, West OKU with the case study that the diversification and the women contribution as the one case and simple random sampling as the MPC with 30 respondent. The result shows that food diversification on family stage is rice-singkong-corn-noodle. The factors that influenced are the family income, women age, women education and the member of the family. Key words: Food diversification, women contribution

PENDAHULUAN
Menurut Hardyastuti (2002), mempercepat diversifikasi pangan dapat ditempuh dengan jalan merubah kebiasaan konsumsi dengan cara mengidentifikasi faktor-faktor apa (ekonomi, budaya, dan sosial) yang mempengaruhi preferensi konsumen dalam konsumsi serta mengidentifikasi kendala dalam melakukan diversifikasi. Dalam konteks Indonesia diversifikasi pangan sering diartikan sebagai pengurangan konsumsi beras yang dikompensasi oleh penambahan konsumsi bahan pangan non beras. Salah satu alasan pentingnya diversifikasi pangan bahwa dalam lingkup nasional pengurangan konsumsi beras akan memberikan dampak positif terhadap ketergantungan impor beras dari negara lain (Suyastiri, 2008). Indonesia kaya beraneka ragam sumber bahan pangan baik nabati maupun hewani guna pemenuhan kebutuhan gizi untuk kesehatan masyarakat. Umumnya masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras sebagai pangan pokok sebagai sumber karbohidrat, sehingga ketergantungan pada beras semakin besar. Ibu rumah tangga mempunyai peranan yang sangat starategis dalam mewujudkan program pemerintah dalam hal diversifikasi pangan pada tingkat rumah tangga. Ibu rumah tangga adalah pengatur konsumsi dan pengeluaran dari rumah tangga. Oleh karena itulah maka menarik untuk dilakukan kajian pola diversifikasi pangan rumah tangga di Desa Kota Baru Kecamatan Martapura Ogan Komering Ulu Timur. Serta analisis peran ibu rumah tangga dalam mewujudkan diversifikasi pangan pada tingkat rumah tangga di Desa Kota Baru Kecamatan Martapura Ogan Komering Ulu Timur.

pdf file

Keberhasilan Okulasi Bibit Rambutan dengan Keberhasilan Okulasi Bibit Rambutan dengan Pemberian Pupuk Urea Oleh: Burlian Hasani

Keberhasilan Okulasi Bibit Rambutan dengan Keberhasilan Okulasi Bibit Rambutan dengan Pemberian Pupuk Urea
Oleh: Burlian Hasani 

Abstract Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian beberapa takaran pupuk Urea terhadap keberhasilan okulasi bibit rambutan. Penelitian ini telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Gandus Palembang. Waktu pelaksanaannya dimulai pada bulan Juli 2008 sampai bulan Oktober 2008. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan yang diulang 6 kali, dengan beberapa takaran pupuk urea yang disusun sebagai berikut: A = 0,0 gram; B = 2,5 gram; C = 5,0 gram; D = 7,5 gram; E = 10,0 gram. Berdasarkan analisis statistika perlakukan urea lima gram menunjukkan perbedaan yang sangat nyata dibandingkan dengan kontrol dan perlakuan urea 10 gram dalam persentase keberhasilan okulasi. Perlakuan lima gram juga berbeda sangat nyata dengan kontrol, dan waktu pembentukan payung daun. Sedangkan jumlah daun menunjukkan adanya perbedaan yang nyata antara perlakuan urea 10 gram dan kontrol perlakuan C (urea lima gram) secara keseluruhan menunjukkan hasil yang lebih baik. Key words: Rambutan, pupuk, okulasi, RAK

PENDAHULUAN
Rambutan (Nephelium lappaeceum L.) meruapakan salah satu jenis buah-buahan yang hasilnya cukup baik untuk dikembangkan, buah rambutan sangat digemari masyarakat karena rasanya lezat dan bernilai gizi tinggi (Soeseno, 1985). Adapun nilai gizi yang dikandung dalam 100 gram buah rambutan segar diantaranya: kalori 54 gram; putih telur :1 gram; lemak 0,1 gram; zat asam arang 12,3 gram; zat kapur 0,028 gram; vitamin C 3,55 gram; dan air 28,87 gram. (Departemen Pertanian, 1985). Penanaman rambutan oleh petani-petani di Indonesia masih ditemukan hambatan-hambatan diantaranya, kurang adanya peremajaan tanaman, cara bercocok tanam belum melaksanakan Panca Usaha Tani, dan kurang mendapat penyuluhan di bidang Hortikultura (Departemen Pertanian, 1985). Rambutan merupakan buah-buahan tahunan, apabila ditanam dari biji lazimnya baru berbuah pada umur 8 tahun sampai 10 tahun. Apabila menanam rambutan dari biji maka hasilnya ada tiga kemungkinan pertama pohon yang dihasilkan adalah pohon betina, dan baru berbuah kalau didekatnya ada pohon jantan, kedua pohon jantan saja yang selamanya tidak akan berbuah dan ketiga pohon yang berumah satu (Tohir, 1983).

pdf file

Analisis Perbandingan Kontribusi Pendapatan Usaha Tani Kacang Panjang (Vigna sinensis) dan Buncis (Phaseolus vulgaris) Terhadap Pendapatan Petani di Desa Batumarta VII Kec. Madang Suku III Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur

Analisis Perbandingan Kontribusi Pendapatan Usaha Tani Kacang Panjang (Vigna sinensis) dan Buncis (Phaseolus vulgaris) Terhadap Pendapatan Petani di Desa Batumarta VII Kec. Madang Suku III Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur
Oleh: Septianita 

Abstract The aim of this research is to count how big production cost and contribution of farmer earnings which trying farmer of Vigna sinensis and effort farmer of Phaseolus vulgaris to farmer earnings in countryside of Batumarta VII. The result of this research showing is that average cost released to produce the Vigna sinensis of extend of season plant equal to Rp. 4.047.223,- and to produce the Phaseolus vulgaris of extend of season plan equal to Rp.3.246.167,- expense released to yield the higher Vigna sinensis when compared to by a production cost Phaseolus vulgaris. Earnings of mean farmer Vigna sinensis of season plant to give the contribution at family earnings of equal to Rp.4.022.501,- or 60,58 gratuity and farmer earnings from effort farmer Phaseolus vulgaris give the contribution at earnings of farmer family equal to Rp.6.487.166,- or 53,97. Key words: Comparison, contribution, earning, farming

PENDAHULUAN
Sektor pertanian mempunyai peranan yang cukup penting dalam perekonomian nasional. Penyerapan tenaga kerja dan devisa negara subsektor pertanian tanaman pangan selama ini telah memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap peningkatan produksi pangan, penyimpanan bahan baku industri, peningkatan ekspor dan pendapatan petani. Diharapkan pada tahap-tahap yang akan datang, peranan subsektor tanaman pangan memegang peranan penting dalam pertumbuhan perekonomian nasional (Departemen Pertanian, 2008). Negara Indonesia sebagai negara agraris menjadikan sektor pertanian berperan sangat penting sekali dalam kehidupan ekonomi masyarakat Indonesia, oleh karena itu pertanian pada saat ini lebih diarahkan pada perkembangan pertanian yang maju dan efisien. Kegiatan usaha tani bertujuan untuk mencapai hasil produksi dibidang pertanian, hasil produksi tersebut akan dinilai dengan uang, dengan perhitungan harga jual produksi dikurangi dengan biaya yang telah dikeluarkan (Hernanto, 1995). Besar kecilnya pendapatan tergantung pada biaya produksi yang dikeluarkan dan harga produksi dimana pendapatan yang diperoleh petani digunakan untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan modal usaha tani selanjutnya.

pdf file