'www.unbara.ac.id'

Fakultas Pertanian

'www.unbara.ac.id'

Fakultas Pertanian

'www.unbara.ac.id'

Fakultas Pertanian

'www.unbara.ac.id'

Fakultas Pertanian

'www.unbara.ac.id'

Fakultas Pertanian

Tampilkan postingan dengan label sept 2009. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sept 2009. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 November 2012

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Kelapa Sawit (Elaeis quinensis Jack) dan Kontribusinya Terhadap Pendapatan Keluarga di Desa Makartitama Kec. Peninjauan Kab. OKU

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Kelapa Sawit (Elaeis quinensis Jack) dan Kontribusinya Terhadap Pendapatan Keluarga di Desa Makartitama Kec. Peninjauan Kab. OKU
Oleh: Septianita

Abstract The research aim to to know the factors influencing coconut production of sawit and to know contribution storey;level earnings of coconut farming of sawit. to earnings of family. The result of research indicate that from result analyse there is two variable having an effect on reality that is wide of seeds amount and farm while labour factor, fertilize herbicide and urea have an effect on do not reality. ursuant to research is also got that accepted earnings is farmer follow the example of coconut farming of sawit [in] countryside of Makartitama per hectare equal to Rp.7.718.341,66. Level of contribution earnings of farmer to earnings of farmer family follow the example of equal to Rp. 7.718.341,66 per year or 76,89%, while contribution earnings of farmer of other effort is equal to Rp. 1.245.183,33 per year or 12,41% and external earnings contribution of farming equal to Rp. 1.073.333,30 or 30,69%, with value of R/C equal to Rp 4,55 with the meaning that each;every Rp 1,00 production cost will give acceptance equal to Rp 4,55. Key words : Production, contribution, coconut farming of sawit, earnings of farmer, wide farm.

PENDAHULUAN
Memasuki era orde baru, pembangunan perkebunan diarahkan dalam rangka menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan sebagai sektor penghasil devisa negara. Sampai dengan tahun 1980 luas lahan mencapai 294.560 ha dengan produksi CPO sebesar 721.172 ton. Sejak saat itu lahan perkebunan kelapa sawit Indonesia berkembang pesat terutama perkebunan rakyat. Hal ini didukung oleh kebijakan pemerintah yang melaksanakan program perkebunan inti rakyat perkebunan (PIR-bun). Perkembangan perkebunan semakin pesat lagi setelah pemerintah mengembangkan program lanjutan yaitu PIR-Transmigrasi sejak tahun 1986. Program tersebut berhasil menambah luas lahan dan produksi kelapa sawit. Pada tahun 1990-an, luas perkebunan kelapa sawit mencapai lebih dari 1,6 juta hektar yang tersebar di berbagai sentra produksi, seperti Sumatera dan Kalimantan Potensial areal perkebunan Indonesia masih terbuka luas untuk tanaman kelapa sawit. Data dilapangan menunjukkan kecenderungan peningkatan luas areal perkebunan kelapa sawit khususnya perkebunan rakyat. Pertumbuhan perkebunan rakyat pada periode tiga puluh tahun terakhir mencapai 45,1% per tahun, sementara real perkebunan negara tumbuh 6,8% per tahun, dan areal perkebunan swasta tumbuh 12,8% per tahun (Fauzi, 2002).

pdf file

Zat Pengatur Tumbuh Asam Giberelin (GA3) dan Pengaruh Terhadap Perkecambahan Benih Palem Raja (Roystonea regia)

Zat Pengatur Tumbuh Asam Giberelin (GA3) dan Pengaruh Terhadap Perkecambahan Benih Palem Raja (Roystonea regia)
Oleh: Dora Fatma Nurshanti

Abstract This research aim to to know influence of regulator Iihat vitamin grow acid of giberelin to germination of king palm seed (Regia Roystonea). This Research is executed in garden attempt of Faculty Of Agriculture University of Baturaja Jl. A. Yani km.8, execution time of executed in November 2006 up to January 2007.Metode used at this research use Random Device of compiled Group at random by 5 restating and 5 treatment. Peubah perceived is time growed sprout, high of sprout, presentase grow sprout, amount of root length and roots. Result of this research indicate that perendaman of king palm seed [at] acid of giberellin with concentration 75 ppm yield growth of length grow on and amount of king palm seed roots of dengannilai compared to highest of other treatment. Key words: Sour of giberelin, perendaman, king palm seed

PENDAHULUAN
Palem Raja (Roystonea regia) merupakan tanaman yang berbatang tunggal dan tegak lurus. Ramping, anggun dan gagah kesan yang diberikan palem raja, sehingga banyak orang yang menyukai dan menanamnya sebagai penghias taman di perumahan, perkantoran maupun di tempat-tempat hiburan, hal inilah yang menyebabkan pohon palem mempunyai nilai ekonomis yang tinggi (Anonim, 1995). Pohon palem raja mempunyai sifat kehidupan yang soliter (tidak mempunyai rumpun, oleh sebab itu perbanyakkannya hanya melalui cara generatif yaitu perbanyakan melalui biji (Anonim, 1995). Perbanyakan cara genegetatif yaitu melalui biji tanaman banyak menghadapi kendala, salah satu kendalanya adalah sifat permeabilitas kulit biji tanaman sehingga menyebabkan adanya sifat dormansi pada biji. Dormansi adalah keadaan dimana sebuah biji dikatakan hidup tetapi tidak dapat berkecambah. Hal ini disebabkan oleh faktor - faktor dalam biji itu sendiri, kemungkinan kulit biji yang kedap air dan udara atau karena adanya zat penghambat perkecambahan (Redaksi Rineka Cipta, 1992). Keadaan dormansi pada benih apabila dipandang dari segi ekonomis tidak menguntungkan, oleh karena itu diperlukan cara untuk dapat mempersingkat dormansi tersebut. Pemecahan dormansi dan penciptaan lingkungan yang ideal sangat diperlukan oleh benih untuk memulai suatu perkecambahan. Berbagai perlakuan dapat diberikan pada biji, baik mekanis maupun kimia (Sutopo, 1993).
Penggunaan hormon tumbuh dapat digunakan untuk menambah kadar hormon yang telah ada dan juga untuk meningkatkan daya kecambah benih(Redaksi Rineka Cipta, 1992). Selanjutnya ditambahkan oleh Prawinata et al., (1998), perkecambahan sebagian benih dorman dapat didorong dengan memberikan zat pengatur tumbuh seperti Asam Giberelin.

pdf file

Pertanian Organik Menuju Pertanian Berkelanjutan

Pertanian Organik Menuju Pertanian Berkelanjutan
Oleh: Nurlaili

Abstract Soil, a three phase system consists of water, air, mineral and organic substance and has physical, chemical, and biological features. It has specific morphology features so that it plays role as growing place for plants. Soil is also a resource that can be use to prosper human because it produces food, clothing, medicine, etc. Animal depends on plant growth on soil. Key words: Soil, environment, plant,organic

PENDAHULUAN
Meningkatnya kegiatan produksi biomassa (tanaman yang dihasilkan kegiatan pertanian, perkebunan dan hutan tanaman) yang memanfaatkan tanah yang tak terkendali dapat mengakibatkan kerusakan tanah untuk produksi biomassa, sehingga menurunkan mutu serta fungsi tanah yang pada akhirnya dapat mengancam kelangsungan kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Isu pelestarian lingkungan kini begitu kuat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan sehingga segala usaha atau tindakan yang berkaitan dengan pembangunan perlu memasukkan unsur pelestarian ke dalamnya. Berkaitan dengan hal itu, teknologi pertanian yang banyak menimbulkan efek negatif terhadap keseimbangan ekosistem perlu ditinjau kembali untuk dicarikan jalan keluar atau penggantinya. Pertanian Organik, Pengendalian hama terpadu, dan biopestisida merupakan cara-cara alternatif dalam menuju pertanian berwawasan lingkungan. Pada mulanya penemuan pestisida disambut penuh harap, seakan pestisida mampu menyelesaikan masalah hama tanaman tanpa menimbulkan dampak merugikan terhadap lingkungan setelah muncul hama yang resisten terhadap pestisida, terbunuhnya organisme bukan sasaran, munculnya hama sekunder, dan terjadinya pencemaran lingkungan, masyarakat baru menyadari bahwa masalah pestisida tidak sesederhana yang dipikirkan. Pestisida merupakan bahan pencemar paling potensial dalam budi daya tanaman. Oleh karena itu, perannya perlu diganti dengan teknologi lain yang lebih berwawasan lingkungan. Pemakaian bibit unggul, pupuk anorganik, dan pestisida memang mampu memberikan hasil yang tinggi. Swasembada beras yang dicapai Indonesia pada beberapa tahun yang lalu tidak terlepas dari ketiga hal tersebut. Namun, tanpa disadari praktek ini telah menimbulkan masalah dalam usaha pertanian itu sendiri maupun terhadap lingkungan.

pdf file

Percepatan Pengembangan Agroindustri di Era Otonomi Daerah; Suatu Pendekatan Kajian Konsep

Percepatan Pengembangan Agroindustri di Era Otonomi Daerah; Suatu Pendekatan Kajian Konsep
Oleh: Fifian Permata Sari

Abstract This research aims to know the strategy and agroindustry policy movement in district autonomy with literature concept appearance. The strategy are agroindustry movement in district autonomy where the district potency and the power of the head as a “core” from the concept which some kind of propositions, are policy, market, financy, infrastructure, research, movement, production and processing, one by one explained. Key words: Agroindustry, district autonomy, movement


PENDAHULUAN Sesudah pemilu legislatif berakhir maka sudah saatnya bangsa ini fokus kembali memikirkan masalah pembangunan yang dihadapi. Permasalahan klasik yang utama adalah sektor pertanian Sektor ini masih menjadi tumpuan sebagian besar masyarakat Indonesia, tetapi sebagai besar pelaku sektor ini berada dalam berbagai tekanan sehinga sulit berkembang (Anindita dan Haryanto, 2004). Suatu terobosan sebagai salah satu alternatif guna meminimalakan bahkan menghilangkan berbagai tekanan tersebut adalah dilakukan dengan percepatan pengembangan agroindustri di daerah bahkan di pedesaan. Banyak kajian telah dilakukan, sesungguhnya betapa pentingnya agroindustri bagi pembangunan nasional. Sektor ini bukan saja mampu meningkatkan pendapatan para pelaku agribisnis, meningkatkan penyerapan tenaga kerja, meningkatkan perolehan devisa melalui peningkatan ekspor hasil pertanian tetapi juga mampu mendorong munculnya industri yang lain. Oleh karena itu sebagai salah satu motor pengerak pembangunan pertanian, agroindustri diharapkan dapat memainkan peran penting dalam kegiatan pembangunan daerah, baik dalam sasaran pemerataan pembangunan, pertumbuhan ekonomi maupun stabilitas nasional dalam suasana era otonomi daerah saat ini. Namun harapan besar tersebut tentunya perlu melihat potensi yanga ada. Untuk mengubah potensi tersebut menjadi kenyataan, berbagai aspek harus dikaji lebih mendalam, apakah agroindustri yang akan dikembangkan dapat menjalankan perannya seperti yang diharapkan. Sejatinya pembangunan pertanian yang dikaitkan dengan pengembangan industri pertanian perlu diarahkan ke wilayah pedesaan. Pengembangannya pun perlu dilakukan skala prioritas yang pertumbuhan agroindustrinya mampu menangkap efek ganda (multy effec) yang tinggi baik bagi kepentingan pembangunan nasional, khususnya perekonomian darah dan pembangunan pedesaan
(Soekartawi, 2000).

pdf file

Analisis Usahatani dan Pemasaran Lada (Piper Nisrum L.) Di Desa Tanjung Durian Kec. Buay Pemaca Kabupaten OKU Selatan

Analisis Usahatani dan Pemasaran Lada (Piper Nisrum L.) Di Desa Tanjung Durian Kec. Buay Pemaca Kabupaten OKU Selatan
Oleh: Yetty Oktarina

Abstract Analysing factors influencing production of usahatani peppercorn in Countryside Foreland Durian District Of Buay Pemaca Sub-Province of OKU South 2. Knowing storey level of marjin marketing of peppercorn which in Countryside Durian Sub-Province foreland of OKU South 3. Analysing storey level advantage of peppercorn usahatani in Countryside Durian Sub-Province foreland of OKU South In line with above target, usefulness of this research result is expected can give consideration or information in the plan peppercorn usahatani for the shake of improving level live farmer of peppercorn. Pursuant to done research result hence can be pulled by a conclusion as following 1. wide of Factors of production farm, seed, and manure of urea have an effect on reality while herbicide and labour have an effect on real do not to peppercorn production 2. told Marketing Marjin profit is channel of III where price sell is higher the than other channel with storey;level of marjin marketing equal to Rp 3.500 the mentioned because of channel of III compared to shorter other channel 3. Advantage storey;level obtained by farmer with peppercorn usahatani equal to 38,15 times; rill of expense which in releasing for the usahatani of peppercorn. Key words: Usahatani, influencing production, peppercorn

PENDAHULUAN
Pembangunan pertanian merupakan salah satu proses yang dinamis untuk meningkatkan sektor pertanian guna untuk menghasilkan bahan pangan yang cukup guna memenuhi kebutuhan masyarakat. Untuk itu kita perlu menggunakan sumber daya yang ada seperti manusia, modal, organisasi, teknologi dan pengetahuan untuk memanfaatkan dan sekaligus melestarikan sumber daya alam guna menjamin kesejahteraan dalam kelangsungan hidup petani dan bangsa (Soekartawi, 1995). Sektor pertanian merupakan bidang kehidupan yang paling vital. Begitupun dengan Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang membangun, di mana dominan penduduknya bermata pencaharian di sektor pertanian, maka wajar kalau dalam beberapa Pelita, sektor pertanian selalu didudukkan pada prioritas yang utama. Peranan sektor pertanian, di samping tercatat sebagai sumber devisa yang cukup besar, juga merupakan sumber kehidupan bagi sebagian besar penduduknya (Sastraatmadja, 1999). Sebagai komoditas ekspor, lada mempunyai nilai ekonomi tinggi sehingga perspektif tanaman lada terhadap ekonomi daerah maupun nasional sangat besar. Di samping sebagai sumber devisa juga sebagai penyedia lapangan kerja dan pemenuhan bahan baku industri. Dalam kelompok rempah, lada merupakan komoditas primadona sebagai penghasil devisa tertinggi sehingga prospek lada masih cukup cerah. Prospek suatu komoditas akan ditentukan oleh mekanisme permintaan dan penawaran pada tahun-tahun yang akan datang.

pdf file

Pengaruh Waktu Pemangkasan Daun dan Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jangung (Zea mays L.)

Pengaruh Waktu Pemangkasan Daun dan Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jangung (Zea mays L.)
Oleh: Ardi Asro, Nurlaili dan Fahrulrozi

Abstract Corn plays important role as food plant. It is on the second place after rice. Corn seeds can be used as foodstuff, woof and raw material for industry. Corn is cultivated not only as seed producer but also as verdant livestock food. Corn consumption always rises. The increasing of corn need is in accordance with population growth and the raising of livestock woof need, where 52,4% of woof is from corn. National production can not cover the demand in that we import 1,26 million ton. Key words: Corn, food, production, consumption

PENDAHULUAN
 Masih rendahnya produksi jagung nasional antara lain disebabkan belum meluasnya penggunaan varietas unggul, minimnya permodalan petani serta pemakaian pupuk dan cara bercocok tanam yang belum memenuhi anjuran. Untuk memenuhi kebuthan yang terus meningkat, upaya peningkatan produksi jagung perlu mendapat perhatian yang lebih besar hingga terwujudnya swasembada jagung (Suprapto dan Marzuki, 2002). Untuk mengatasi kesenjangan atara produksi dan konsumsi maka usaha-usaha peningkatan produksi jagung harus menerus dilakukan, terutama perbaikan teknik bercocok tanam. Bercocok tanam jagung adalah usaha turut campur tangan manusia di dalam pengelolaan tanaman jagung, sehingga kelak dapat diperoleh hasil yang diharapkan. Dalam usaha pengelolaan tanaman jagung perlu dipersiapkan beberapa hal yang dapat menunjukkan keberhasilan penanaman jagung. Pemberian jarak tanam penting dilakukan guna mendapatkan produksi yang maksimum. Pada jarak tanam tertentu tidak lagi dapat meningkatkan pertumbuhan dan produksi melainkan menurunkan hasil produksi tanaman (Jumin, 2005). Kerapatan jarak tanam yang tumbuh dan dipanen dalam satuan luas sangat mempengaruhi produksi tanaman. Tanaman jagung yang ditanam varietas unggul hendaknya ditanam dengan populasi yang rendah (Adisarwanto dan Widiastuti, 2004). Pemilihan jarak tanam sangat tergantung dengan kesuburan tanah, daya tumbuh beni, varietas yang ditanam dan ketersediaan benih. Pemberian jarak tanam yang jarang akan menyebabkan gulma mudah tumbuh diantara tanaman, bila benih banyak tidak tumbuh mengakibatkan jumlah tanaman semakin rendah sehingga tidak mendapatkan produksi yang optimal (Sumarno, 1987). Penanaman dengan jarak tanam bertujuan agar populasi tanaman mendapatkan bagian yang sama terhadap unsur hara yang diperlukan dan sinar matahari, sehingga didapatkan ruang pertumbuhan yang seragam dan memudahkan dalam pemeliharaan.

pdf file

Pertanian Organik dan Teknologi Pendukungnya

Pertanian Organik dan Teknologi Pendukungnya
Oleh: Gribaldi

Abstract People specially who concern about health pay more attention on organic agriculture. It indicates that there is potential market to penetrate. In Indonesia, organic agriculture has not been implemented optimally, but some horticulture such as organic vegetable has been produced dan marketed in limited volume. Therefore, readiness of technology to support organic agriculture production need to be analyzed. Preparing organic agriculture technology should notice on: soil resource, seed, fertilization, mark zone Key words: technology, organic agriculture, cultivation

PENDAHULUAN
Pertanian organik semakin mendapat perhatian dari sebagian masyarakat baik di negara maju maupun negara berkembang, khususnya mereka yang sangat memperhatikan kualitas kesehatan, baik kesehatan manusia maupun lingkungan. Produk pertanian organik diyakini dapat menjamin kesehatan manusia dan lingkungan karena dihasilkan melalui proses produksi yang berwawasan lingkungan. Di beberapa negara maju, pertanian organik telah menunjukkan porsi yang cukup signifikan dalam sistem produksi pangan. Misalnya di Austria, 10% dari pangan berasal dari pertanian organik, di Swiss pangan organik mencapai 7,8%,dan di beberapa negara lainnya seperti Amerika Serikat, Perancis, Jepang dan Singapura. Kemajuan dalam pertanian organik mencapai lebih dari 20% setiap tahunnya (FAO, 1999). Di Indonesia, sampai saat ini belum ada catatan yang jelas tentang produksi pertanian organik. Namun beberapa tanaman hortikultura seperti sayuran sudah mulai diproduksi dan dipasarkan di dalam negeri, meskipun masih dalam jumlah yang sangat terbatas, dengan lokasi pengembangan terbatas. Oleh karena itu, kesiapan teknologi untuk mendukung produksi pertanian organik perlu dikaji. Tulisan ini dimaksudkan untuk menunjukkan sejauh mana kesiapan teknologi budidaya pertanian organik yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

pdf file

Efektivitas Penetrasi Herbisida Glysofat Terhadap Alang-Alang (Imperata clyindrica. L)

Efektivitas Penetrasi Herbisida Glysofat Terhadap Alang-Alang (Imperata clyindrica. L)
Oleh: Firnawati Sakalena

Abstract Coarse grass (Imperata Cylindrica. L) or Cogon Grass in the USA is a prime weed to cultivated plants both seasonal and yearly plant. It is hard to imagine that coarse grass, a beautiful plant with white flower, is categorized as weed plant. Coarse grass grows aggresively and molest other plant and surrounding ecosystem. Its ability to grow in fertile, infertile, humid and hot land make it easily found almost in all over Indonesia. Key words: Coarse grass, weed, cultivation, grass

PENDAHULUAN
Penyebaran alang-alang di Indonesia bisa mencapai luasan 16 juta ha dengan penambahan luasan sebesar 150.000 ha setiap tahunnya. Bisa kita bayangkan bagaimana bila tanaman tersebut tidak dibasmi, mungkin dalam waktu yang tidak lama sebagian lahan kita sudah menjadi padang rumput. Namun, tentu saja penyebaran yang tinggi tersebut bukan tanpa alasan. Tingginya luasan ilalang di Indonesia tidak terlepas dari cara bercocok tanam sistem ladang berpindah yang masih dianut oleh sebagian kecil petani kita, belum lagi kesalahan manajemen perusahaan perkebunana besar dalam meng-eksploitasi lahan yang menyisakan lahan-lahan kosong. Lahan kosong yang ditinggalkan tersebut tentu saja menjadi tidak subur, dan tanaman lain kesulitan untuk bisa beradapasi di lahan bekas eksploitasi hutan tersebut memberikan kesempatan pada ilalang untuk menempatinya dan tumbuh subur. Selama ini ada beberapa cara yang dilakukan untuk mengendalikan ilalang tersebut, baik secara mekanis maupun kimia. Secara mekanis, untuk areal yang relatif sempit sangat memungkinkan bagi kita mengendalikannya dengan bantuan alat pertanian seperti sabit atau tangan sendiri dengan mencabut hingga ke akarnya. Namun bila pengendalian dilakukan pada areal yang lebih luas, rasanya penggunaan roda penggiling merupakan cara yang paling tepat. Rumput ilalang yang ada digilas sedemikian rupa hingga rata dengan tanah , hal ini bisa mencegah ilalang tumbuh kembali.

pdf file

Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogea. L) Terhadap Dosis dan Waktu Pemberian Pupuk KCL

Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kacang Tanah (Arachis hypogea. L) Terhadap Dosis dan Waktu Pemberian Pupuk KCL
Oleh: Yulhasmir

Abstract This research aims to know respond of growth and peanut production (Arachis Hypogea. L) to dosage and fertilizing time of KCL. The research was done in June-September 2007 in experimental land of Agriculture Faculty Baturaja University. It uses 15 treatments and 3 repetitions. There are 3 treatments of fertilization : A1 (50 kg KCL/Ha), A2 (100 kg KCL/Ha), A3 (150 kg KCL/Ha), and 5 treatments of fertilizing time : B0 (0 week), B1 (0 and 5 weeks), B2 (0, 5 and 7 weeks), B3 ( 0 and 7 weeks), B4 (5 and 7 weeks). 100 kg/Ha of KCL (60 kg K2O) and 0, 5 and 7 weeks give the best result. Key words: Peanut (Arachis hypogea. L), dosage, fertilizing time of KCL PENDAHULUAN Kacang tanah merupakan salah satu jenis kacang-kacangan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat kita. Kacang tanah dapat diolah menjadi bermacam-macam produk, misalnya kacang goreng, kacang bawang, ampyang, enting-enting, rempeyek, dan sebagainya. Masukkan ke Indonesia oleh orang orang Cina dan tanaman ini berasal dari Amerika Selatan, dari kawasan Negara Bolivia dan Peru (Fachruddin, 2000). Kacang Tanah ( Arachis hypogea, L ) merupakan salah satu sumber protein nabati yang cukup penting di Indonesia ( Sarwanto, 1993). Munawir (1996) mengatakan kebutuhan kacang tanah dalam negeri menunjukkan kenaikan cukup besar, yaitu 4,4% pertahun. Untuk memenuhi kebutuhan, menekan impor dan meningkatkan ekspor maka peningkatan produksi harus dilakukan dengan cara memperluas areal tanam, baik di lahan kering maupun di lahan sawah, ini dapat tercapai bila kerja sama antara pemerintah dan petani seimbang (Sumarno, 1993). Pengolahan tanah yang baik, pemeliharaan tanaman, mencegah serangan hama dan penyakit, pengaturan populasi tanaman dan pemberian pupuk dengan jenis dan dosis yang tepat serta pengendalian gulma merupakan salah satu upaya untuk peningkatan produksi (Sumarko, 1993) Sebagai bahan pangan biji kacang tanah banyak mengandung lemak dan protein (Suprapto, 1993). Biji kacang tanah mengandung 20-30% protein, 42-55 % minyak dalam bentuk lemak, 21% karbohidrat, 5% air dan 540 kalori. Protein kacang tanah terdiri dari albumin, arakhin (63%) dan konarakhin (33%). Arakhin mengandung 0,4% sulfur dan konarakhin mengandung 1,09 % sulfur. Arakhin terutama kaya asam amino jenis threonin dan praline, tetapi miskin lisin dan methionin, konarakhin miskin phenilalanim dan ferosin (Sumarno, 1986).

selengkapnya : pdf file